Pedang Elang Buriak, Pusaka Rumah Pangeran Arpan

Perjalanan Mengunjungi Rumah Pangeran Arpan

Sejarah perjuangan masyarakat di Kabupaten Seluma pada masa penjajahan tidak terlepas dari peran para sepuh nenek moyang yang memiliki keahlian dari sisi mistis pada zaman dahulu. Salah satu bekas peninggalan sejarah masa lalu di Kabupaten Seluma yaitu adanya rumah pangeran Arpan yang terletak di Desa Karang Anyar Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM) Kabupaten Seluma.

berikut ini rangkaian perjalanan kami mengunjungi rumah Pangeran Arapan :

Perjalanan mengujungi rumah Pangeran Arpan dimulai dari agenda syuting film daerah drama cinta Serawai Sera dan Joan yang digarap oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Seluma. JMSI menggarap film daerah ini untuk mengangkat nama baik daerah dengan mengumpulkan potongan-potongan sejarah serta menampilkan kebudayaan dan adat asli masyarakat Kabupaten Seluma.

Hari itu, Minggu 16 April 2022 kami berangkat dari Sekretariat JMSI Seluma sekira pukul 10.00 WIB siang. Perjalanan dimulai, pertama mengunjungi rumah sejarah di Kelurahan Masmambang Kecamatan Talo. Di lokasi ini hanya ada pengambilan vidio pendukung saja. kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Karang Anyar.

Sebelum ke lokasi rumah pangeran ini, kami berhenti sejenak di rumah sahabat saya, namanya Fahren. Dia kebetulan dulu pernah satu kantor dengan saja. Dan saat ini merupakan perangkat desa. Dia penunjuk arah dan mengantar kami ke rumah Kades dan ke lokasi rumah pangeran Arpan.

Tiba di lokasi tim syuting film JMSI langsung ditunjukkan pintu masuk dan dipersilahkan untuk memulai syuting oleh Kades desa itu. Kades yang ramah dan langsung menyambut dengan baik. Kebetulan lagi bulan puasa, mungkin kalu tidak bulan puasa, jangan-jangan kami dijamu hidangan makanan oleh kades.

Setelah kami memasuki rumah pangeran ini, ada beberapa pajangan foto dan silsilah keturunan Pangeran Arpan. Banyak keturunan pengeran ini sekarang sudah menjadi pembesar. Salah satunya yaitu mantan Kapolda Benngkulu Irjen Purn Supratman.

Dari hasil bincang kami bersama Kades, rumah Pangeran Arpan ini dibangun sejak tahun 1916. Dan pernah direnovasi pada tahun 2019 lalu. Kades mengisahkan selintas perihal mistisnya rumah pangeran tersebut. Rumah dengan konsep rumah tua masa lalu itu, mempunyai banyak sejarah yang tidak cukup dibahas dalam waktu satu hari saja.

“Renacanya ini akan dijadikan Cagar Budaya. Namun, sampai saat ini masih belum. Untuk perawatan rumah ini masih dari dana pribadi,”Cerita Kades, Zhainal Asikin dalam bincang sebelum agenda syuting dilakukan.

Manariknya, Kades mengisahkan bahwa banyak sekali pusaka peninggalan di rumah Pangeran Arpan ini. Namun, untuk menjaga agar tidak hilang. Puasaka disimpan oleh keturunan keluarga pangeran. Namun, ada satu pusaka yang tidak bisa jauh dari rumah Pangeran. Yaitu pusaka Pedang Elang Buriak. Pedang Elang Buriak ini, menurut Kades mungkin diambil dari nama burung Elang yang mempunyai warna lebih dari satu. Menurut Kades, ada dua ekor Burung Elang yang hampir setiap malam Jumat datang ke rumah Pangeran Arpan. Bahkan, hingga saat ini Elang buriak masih sering datang ke rumah Pangeran Arpan tersebut. masyarakat sekitar tidak lagi heran karena memang sudah lazim hal semacam itu.

“Kalau ada bekas putih itu bekas kotoran burung elang yang merupakan penunggu rumah ini,”Kisahnya.

Kades sempat menunjukkan sebuah Pedang yang menyerupai Pedang Elang Buriak. Menurutnya, Pedang Asli tidak bisa dikeluarkan sembarangan saja. Karena takut mengganggu agenda syuting yang kami jadwalkan.

Bentuk Pusaka Pedang Elang Buriak
Bentuk Pusaka Pedang Elang Buriak

Pikir ku, cerita ini sangat menarik untuk terus digali. Namun, karena waktu yang membatasi, maka perjalanan mengunjungi rumah Pangeran Arpan berakhir hingga pukul 16.30 WIB. Kami kemudian berpamitan ke Kades dan menyampaikan terimakasih. Sebelum kami melanjutkan perjalanan. kades berpesan, bahwa rumah Pangeran Arpan akan terbuka untuk siapapun yang berniat mengunjunginya. Namun, tetap harus izin, menjaga etika dan menjaga kebersiahan rumah peninggalan nenek moyang zaman dahulu tersebut.

Potongan sejarah ini tetap harus dikumpulkan, agar tidak tergerus oleh zaman. Terakhir penulis menyampaikan permohonan maaf apa bila dalam penulisan perjalanan mengunjungi rumah Pangeran Arpan itu terdapat kesalahan. Karena penulis hanya menusia bisa yang mempunyai banyak kekurangan. Semoga catatan sejarah-sejarah di Kabupaten Seluma dapat terkumpul dan dapat menjadi sebuah buku yang dirangkum agar tetap abadi pada masa yang akan datang.

Penulis : Sepriandi
Jurnalis Kabupaten Seluma

Leave A Reply

Your email address will not be published.