Lagi, Indikasi Pungli Sampai 500 Ribu di Perpus Kepahiang, 14 ASN Lapor Polres

Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kepahiang.
Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kepahiang.

Potret Rafflesia – Lagi-lagi indikasi pemotongan liar terjadi, sepertinya ini sudah menjadi tren pemegang dana di beberapa Dinas yang ada di Kabupaten Kepahiang. Sebelumnya pemotongan liar terjadi di Kesatuan Pol PP dan Damkar yang saat ini sedang diproses inspektorat Kepahiang untuk dikenakan sanksi, tetapi itu tidak membuat takut tempat lain untuk melakukan hal yang sama.

Baca juga : Kasat Minta Maaf, Potongan Berkedok Sumbangan Dikembalikan

Kali ini indikasi pemotongan jauh lebih besar, kalau di Pol PP dan Damkar hanya kisaran 100 hingga 200 ribu, di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah dipotong hingga 500 ribu rupiah. Menurut Kabid Arsip Saparudin pemotongan ini dilakukan dua kali oleh Widya dan Yuli selaku bendahara yaitu saat pencairan TPP, Rapel Kenaikan Gaji dan Gaji 14.

“Pemotongan ini beragam kalau yang saya rapel kenaikan gaji 50 ribu, TPP 250 ribu, dan digaji 14 yang saya 554.400 jadi total yang saya itu 854.400”, ujar Saparudin yang didampingi lebih dari 6 orang ASN Perpus kepada potretraflesia.com.

Dari 14 orang ASN yang ada di Perpus ini hanya 2 orang yang tak mau dipotong dan memang tidak dipotong. Lanjut Safarudin untuk rapel kenaikan gaji pemotongan rata di angka 50 ribu, untuk TPP beragam untuk Kepala Dinas 400 ribu, sekretaris 250 ribu, kabid 250 ribu, Kasi 150 ribu dan staf rata 100 ribu. Sementara untuk gaji ke 14 dipotong juga dengan nominal beragam Epi sebesar 207.900, Sadikin 15 ribu, Dyah 212.000, Lidia 95.500, Meli 150.000, Adians 175.800 dan Kurniawan 154.400 dan Saparudin 554.400.

“Makanya hari ini (29/5)  saya dan 13 rekan lainnya melaporkan ini ke Polres Kepahiang, kami tidak mau ini menjadi kebiasaan di dinas-dinas yang ada, biar ini jelas, karena potongan yang dilakukan ini tanpa pemberitahuan, dan teman-teman sebelum pencairan sudah mengatakan bahwa jangan sampai ada pemotongan sama sekali. Tapi tidak diindahkan sama sekali”, ungkap Saparudin. 

Saat dikonfirmasi Widya Kasubag Keuangan yang dilaporkan oleh 14 ASN ini mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya pemotongan tersebut sebelum mereka mengajukan keberatan, ternyata ada kesalahan print out yang dilakukan saat perekapan gaji tersebut.

“Saya hanya membantu dalam proses pencairan, karena diminta langsung oleh Kadis, hanya sebatas melakukan proses pencairan agar cepat, karena saya dari BKD keuangan sebelum dipindahkan kesini, kalau urusan uang sama sekali tidak ada sama saya, semua uang sama bendahara yaitu pak Mul, untuk yang gaji 14, dimana ada pemotongan khusus yang pak Saparudin, uang gaji 14-nya saja masih utuh di bendahara, belum diambil”, ujar Widya.

Begitu juga untuk yang TPP, menurut Widya dia ikut membantu proses pencairan atas perintah Kadis yaitu Muhdi, dan juga teman-temannya di Perpus tersebut termasuk Saparudin yang sekarang malah melaporkannya.

“TPP juga begitu, saya bantu proses pencairan mulai dari SPD, SPP/SPM hingga SP2D, saat SP2D selesai orang BKD Keuangan menelpon saya mengatakan kalau uang sudah bisa dicairkan, nah saya langsung memberitahukan Meli bendahara sebelum Mulyanto yang saat ini pindah ke Pariwisata, bahwa uang sudah bisa dicairkan, kemudian Meli lah yang mengurus selanjutnya karena bendahara yang bisa mencairkan uang, dengan cek yang ditanda tangani oleh Kadis. Yang otomatis uang pencairan ada di Meli dan Meli lah yang membagikannya, saya tidak tahu sama sekali, saya jadi heran kenapa saya yang disalahkan dan dilaporkan, ada apa ini”, keluhnya.

Lanjut Widya kalau masalah pemotongan dirinya juga dipotong untuk rapel kenaikan gaji 50 untuk TPP 150 ribu dan untuk gaji 14 “Saya tidak tau karena gaji saya masih di tempat lama, bagaimana mungkin saya yang dilaporkan”. Widya juga menegaskan “Saya hanya membantu proses pencairan tanpa memegang uang sama sekali”.

Sementara itu Kadis Kearsipan dan Perpustakaan, Muhdi, saat dikonfirmasi membenarkan keterangan Widya bahwa benar dirinyalah yang memerintahkan Widya untuk membatu proses pencairan namun hingga batas SP2D, selanjutnya dilakukan bendahara, untuk pemotongan dirinya pun dipotong sebesar 400 ribu, yang menurut Yuli salah satu stafnya guna berbagi kepada para honorer.

“Saat itu Yuli mengatakan kepada saya uang bapak dipotong ya, untuk bagi-bagi sama honorer, ya sudah jawab saya tidak apa-apa, bagaimana yang lain, harus dikasih tau kalau mau dipotong juga, setelah itu saya tidak tau lagi, hingga ribut-ribut hari ini, saya akan segera menyelesaikan hal ini secepatnya”, ujar Muhdi. (Soe)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *