Hadirkan Hamdan Zoelva, KAHMI Bengkulu Gelar Dialog Kebangsaan

MW KAHMI Bengkulu gelar Dialog Kebangsaan.
MW KAHMI Bengkulu gelar Dialog Kebangsaan.

Potret Rafflesia – Majelis Wilayah Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Bengkulu menggelar Dialog Kebangsaan di Aula Pertemuan Lantai VI Gedung KH. Ahmad Dahlan, Kampus IV Universitas Muhammdiyah Bengkulu, Jumat siang (11/1).

Mengangkat tema ‘Membedah Posisi Akademisi Dalam Pusaran Peradaban Demokrasi Modern’, MW kAHMI Bengkulu menghadirkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK RI), Hamdan Zoelva, yang juga merupakan Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI.

Dalam sambutannya, Koordinator MW KAHMI Bengkulu, M. A. Prihatno, mengatakan bahwa situasi kebangsaan Indonesia saat ini berada salam situasi yang disebutnya dengan istilah ‘sakit’.

“Apa yang menyebabkan kondisi kebangsaan ini sakit? Saya menyebutnya dengan istilah, yang pertama adalah mafia hukum. Ini yang menurut saya merusak kondisi kebangsaan kita saat ini. Hukum dipermainkan, tapi kita tidak bisa membuktikannya. Ini sangat merusak. Ibaratnya, baunya ada tapi kita tidak tau bentuknya”, ujar Prihatno.

Selanjutnya, menurut Prihatno, selain mafia hukum, adalagi yang disebutnya dengan istilah ‘Mafia Sumber Daya Alam’ yang tak kalah besar andilnya dalam memperparah kondisi kebangsaan yang sedang sakit.

“Selanjutnya, ada juga mafia yang memperebutkan pengelolaan sumber daya alam. Mafia sumber daya alam juga ikut andil dalam merusak kondisi kebangsaan ini sehingga membuat kebangsaan ini menjadi semakin sakit. Semoga dialog kebangsaan hari ini dapat membuka mata kita untuk melihat seperti apa posisi dan peran akademisi dalam demokrasi kekinian”, tutupnya.

Dalam penyampaiannya, Hamdan Zoelva mengatakan bahwa seluruh unsur masyarakat harus memahami terlebih dahulu bagaimana genealogi kapitalisme agar dapat memahami falsafah hidup bangsa indonesia dan bagaimana demokrasi di Indonesia hari ini.

“Kapitalisme itu lahir dari liberalisme, liberalisme lahir dari individualisme. Seluruh founding father Indonesia melawan kapitalisme karena kapitalisme menciptakan ketidakadilan”, kata Hamdan Zoelva.

Mengenai demokrasi, Hamdan Zoelva mengatakan bahwa dalam demokrasi ada tiga pilar yang harus dijaga yakni: kesejahteraan rakyat, kecerdasan rakyat, dan penegakan hukum. 

“Rakyat boleh sejahtera, rakyat boleh saja tidak cerdas, tapi hukum harus tetap ditegakkan jika ingin demokrasi selamat. Tapi kalau penegakan hukum juga sudah rusak, maka hancurlah demokrasi itu”, pungkasnya.

IMG-20190111-WA0012

Dialog kebangsaan ini dihadiri lebih dari 200 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus yang ada di Bengkulu. Tampak hadir pula dalam kegiatan ini sejumlah alumni HMI yang tergabung dalam MW KAHMI Bengkulu, sejumlah akademisi yang berasal dari UMB, dan perwakilan MN KAHMI. (SU41)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *