Bukit Barisan, Tulang Punggung Sumatra itu Terancam Tambang.

 39371ca5-ba67-46ac-884f-f8e98be5786f

Potret Rafflesia – Sejujurnya hingga saya menuliskan tulisan ini, saya masih berdiri diambang keraguan, apakah memang kita semua telah mengerti bagaimana cara hutan menyelamatkan kehidupan. Keraguan ini lahir dari realita, cara kita memperlakukan hutan itu sendiri. Terkhusus memang bagi penyelenggara negara yang secara hukum diamanatkan untuk mengawasi, menjaga, mengatur dan menyelamatkan hutan Indonesia.

Secara ekologis, tidak ada satu makluk yang tidak memiliki relasi dengan hutan. Baik yang hidup di kota, maupun di kampung-kampung yang berdampingan langsung dengan hutan. Namun, sering sekali kebijakan yang diambil oleh pemerintah berbuah kegagalan dalam menjaga keselamatan hutan. Sering juga kemudian kebijakan tersebut, memisahkan masyarakat lokal dengan pengalamannya: menjaga dan merawat hutan. Juga, kegagapan kita yang secara geografis hidup jauh dari hutan dalam mengartikulasikan seruan penyelamatan, saat secara terang-terangan ada kebijakan yang mengancam keselamatan hutan itu sendiri.

Hutan Bengkulu yang merupakan bentang alam Bukit Barisan adalah ‘Tulang Belakang Sumatera’. Sama seperti tulang belakang pada tubuh manusia, Bukit Barisan, tulang belakang Sumatera ini berfungsi untuk menopang, memberi kekuatan dan menjamin keseimbangan tubuh Sumatera. Secara ekologis, sebagai tulang belakang Sumatera, bukit barisan menjadi sumber air dari seluruh sungai besar yang ada di pulau Sumatera. Sungai-sungai yang bermuara ke pantai barat (Samudera Hidia) dan pantai timur (Selat Malaka). Bukit barisan juga menjadi rumah beragam jenis Flora dan Fauna.

Hutan Bengkulu mencapai 46% dari luas keseluruhan wilayah darat Provinsi Bengkulu. 924 ribu hektar dari 1,9 juta hektar wilayah Provinsi Bengkulu adalah kawasan hutan. Secara administrasi data menyebutkan begitu, tetapi realitanya laju kerusakan hutan Bengkulu sulit untuk dihentikan. Berdasarkan data Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi Bengkulu tahun 2014-2033, dari luas cagar alam sebesar 4.300 Ha, hanya tinggal sekitar 31% yang masih merupakan hutan. Ini pun hanya dalam bentuk hutan sekunder. Tutupan sisanya sudah berupa non hutan. Sedangkan tutupan hutan taman wisata alam hanya tinggal sekitar 33%. Kawasan hutan lindung yang tutupannya masih berupa hutan primer adalah sekitar 42% dan berbentuk hutan sekunder sebesar 33%. Artinya luas hutan lindung yang tutupannya bukan hutan mencapai hampir 25% dari 250.750 Ha. Sedangkan hutan produksi tetap yang berupa hutan primer tinggal sekitar 13% dan hutan sekunder sebesar 52%. Hutan produksi terbatas telah kehilangan tutupan hutan 50% dengan menyisakan 10% area hutan primer dan 40% hutan sekunder (Data diolah dari Ditjen Planologi Kementerian Kehutanan, 2011).

Kerusakan hutan ini dikarenakan aktivitas masyarakat, aktivitas perkebunan skala besar dan pertambangan hingga ke dalam kawasan hutan bukit barisan dengan atau tanpa izin. Dalam tulisan ini saya akan lebih menyoroti perizinan dan aktivitas pertambangan yang mengancam keselamatan hutan Bukit Barisan Bengkulu. Bukan dalam upaya menegasikan ancaman dari perkebunan skala besar dan aktivitas masyarakat, tetapi saat ini puluhan ribu hektar hutan kita diancam oleh izin-izin usaha pertambangan, baik berstatus eksplorasi maupun eksploitasi.

Berdasarkan analisis data Kementerian ESDM yang telah dipublikasikan (bisa lihat di http://geoportal.esdm.go.id/peng_umum/) ada 12 perusahaan yang izinnya masuk dalam kawasan hutan bukit barisan wilayah administrasi Bengkulu. 12 perusahaan pertambangan itu didominasi komoditi batu bara dan komoditi emas. Dalam konteks masuknya izin pertambangan ke dalam kawasan hutan Bukit Barisan, saya tidak menekankan pada mekanisme izin pinjam pakai kawasan hutan yang mungkin dimiliki oleh sedikit saja perusahaan, tetapi dampak hancurnya tulang belakang Sumatra menjadi hal yang sangat penting dan utama.

Untuk nama perusahaan dan masuk ke dalam kawasan hutan Bukit Barisan dapat dilihat pada tabel berikut:

NO

NAMA PERUSAHAAN

STATUS

LUAS IZIN

MASUK DALAM KAWASAN HUTAN BUKIT BARISAN

1

PT. Bengkulu Utara Gold

IUP Eksplorasi

14.044 ha

HPT. Lebong Kandis, HL. Bukit Daun dan HL. Boven Lais

2.

PT. Inmas Abadi

IUP Operasi Produksi

4051 ha

735 ha masuk dalam TWA Seblat, 1915 ha masuk dalam HPT. Lebong Kandis dan 540 ha masuk dalam HPK

3.

PT. Bara Mega Quantum

IUP Operasi Produksi

1998 ha

HPT. Rindu Hati seluas 1.580 ha

4.

PT. Energi Swa Dinamika Muda

IUP Eksplorasi

30.010 ha

HPT. Batu Rabang, HPT. Bukit Ramang dan HL. Bukit Sanggul

5.

PT. Perisai Prima Utama

IUP Eksplorasi

95.160 ha

HL. Bukit Sanggul dan HPT Bukit Ramang

6.

PT. Ratu Samban Mining

IUP Operasi Produksi

1955 ha dan 5196 ha

HL. Bukit Daun, HPT. Bukit Badas, dan HL. Bukit Sanggul

7.

PT. Danau Mas Hitam

IUP Operasi Produksi

800 ha

HPT. Rindu Hati dan HP. Rindu Hati

8.

PT. Inti Bara Perdana

IUP Operasi Produksi

892 ha

HPT. Rindu Hati dan HP Rindu Hati

9.

PT. Kusuma Raya Utama

IUP Operasi Produksi

984 ha

Taman Buru Semidang Bukit Kabu

10.

PT. Bara Indah Lestari

IUP Operasi Produksi

995 ha

HPT. Bukit Badas

11.

PT. Cakra Bara Persada

IUP Operasi Produksi

5589 ha

Taman Buru Semidang Bukit Kabu

12.

PT. Bumi Arya Syam & Syah

IUP Operasi Produksi

2846 ha

HPT. Bukit Badas

Luasan konsesi IUP yang masuk dalam kawasan hutan Bukit Barisan ini juga tidak tanggung-tanggung luasnya. PT. Bengkulu Utara Gold, PT. Inmas Abadi, PT. Energi Swa Dinamika Muda, PT. Perisai Prima Utama, PT. Inti Bara Perdana, PT. Ratu Samban Mining dan PT. Bumi Arya Syam & Syah sekitar 80% luas konsesi IUP nya masuk ke dalam kawasan hutan Bukit Barisan. Para pemodal yang perusahaannya masih mengantongi IUP berstatus eksplorasi, sedang serius meyakini penyelenggara negara untuk memberikan legitimasi beroperasi dengan bentuk izin pinjam pakai kawasan hutan, atau bahkan pelepasan kawasan hutan.

Bengkulu akan tumbang, karena bukit barisan yang selama ini menopang tubuh sumatera, termasuk Bengkulu semakin keropos, digrogoti oleh penyakit berbahaya, pertambangan.

DAS Air Bengkulu, Contoh Tak Terbantahkan Keroposnya Bagian Tulang Belakang

Rasanya  tak lekang dari ingatan kita narasi kerusakan DAS Air Bengkulu. Sejak tujuh tahun terakhir kampanye kerusakan DAS Air Bengkulu banyak dilakukan oleh kelompok penggiat lingkungan dan kelompok mahasiswa pencinta alam. DAS Air Bengkulu hancur karena aktivitas eksploitatif pertambangan. Jika melihat tabel diatas, PT. Bara Mega Quantum, PT. Kusuma Raya Utama, PT. Cakra Bara Persada, dan PT. Inti Bara Perdana adalah perusahaan yang beraktivitas di hulu DAS Air Bengkulu yaitu kawasan hutan Bukit Barisan.

Siapa yang membantah bahwa DAS Air Bengkulu baik-baik saja?

Banyaknya batu bara di sungai Bengkulu hingga ke pesisir adalah satu diantara beberapa penanda, selain warna air yang coklat keruh. Sungai Bengkulu yang menjadi sumber air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) saat ini tidak lagi layak menjadi bahan baku air minum. 10 ribu pelanggan PDAM di Kota Bengkulu mengalami krisis air bersih. Pengeluaran rumah tangga pasti semakin bertambah. Bagaimana tidak, air PDAM yang kita bayar hanya bisa dipakai untuk mandi dan mencuci saja, sedangkan untuk air minum dan air untuk memasak, kita harus membeli air galon. Sering sekali memang kita (warga kota) tidak pernah menyadari bahwa kita juga telah menjadi korban dari aktivitas pertambangan yang ada di wilayah hulu. Hak kita atas air, tercerabut.

Bukan hanya krisis air bersih, warga Kota Bengkulu juga menjadi korban banjir setiap hujan turun. Sudah sejak tahun 90-an banjir selalu melanda Kota Bengkulu, wajar karena pertambangan batu bara beroperasi di hulu sungai Bengkulu sejak tahun 80-an. Sekarang, hujan deras turun beberapa jam saja, bisa dipastikan sungai Bengkulu di kawasan Rawa Makmur, Tanjung Agung, Tanjung Jaya pasti meluap.

Fakta ini membuktikan bahwa rakyat yang hidup di wilayah hulu dan hilir menjadi korban. Kita harus menanggung beban ekonomi dan ekologis akibat aktivitas pertambangan yang ada. Pemerintah juga harus mulai menghitung ongkos pemulihan ekologis yang tidak murah.

Inmas Abadi, PT. Bengkulu Utara Gold, PT. Energi Swa Dinamika Muda dan PT. Perisai Prima Utama Mengancam Tulang Belakang Semakin Keropos.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang mau belajar dari kesalahan masa lalu. Potret kerusakan DAS Air Bengkulu seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita, khususnya penyelenggara negara untuk tidak menjadikan alam sebagai komoditi. Layanan alam bagi kehidupan kita tidak lah pantas untuk dinilai secara material saja.

IUP yang diterbitkan pemerintah untuk PT. Inmas Abadi, PT. Bengkulu Utara Gold, PT. Energi Swa Dinamika Muda dan PT. Perisai Prima Utama harus lah dilihat sebagai ancaman keselamatan bukit barisan. Jika perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi maka Bengkulu akan tumbang atau collaps.

  1. Inmas Abadi yang masuk dalam TWA Seblat, HPT. Lebong Kandis dan HPK merupakan hulu dari sungai Ketahun, juga merupakan ‘rumah’ bagi satwa dilindungi gajah. Hilangnya ‘rumah’ bagi satwa gajah akan semakin meningkatkan konflik antara gajah dan masyarakat. PT. Inmas juga berada di kawasan Cekungan Air Tanah Painan-Lubuk Pinang (http://geoportal.esdm.go.id/peng_umum/).
  2. Bengkulu Utara Gold, PT. Energi Swa Dinamika Muda dan PT. Perisai Prima Utama konsesi izinnya 85 % berada di tulang belakang Sumatra. Konsesinya juga berada di wilayah Cekungan Air Tanah Bengkulu dan Cekungan Air tanah Muaroduo-Curup (http://geoportal.esdm.go.id/peng_umum/). Cekungan Air Tanah yang seharusnya menjadi Zona Korservasi Perlindungan AirTanah untuk mewujudkan kemanfaatan air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai dengan PERMEN ESDM No. 02 Tahun 2016 Tentang Cekungan Air Tanah Di Indonesia.

Sekarang seharusnya keselamatan Bukit Barisan, tulang Punggung Sumatra tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya pemerintah Provinsi Bengkulu. Kita sebagai masyarakat harus mampu menyuarakan, mendesak serta menuntut keselamatan Bukit Barisan dari ancaman pertambangan. Bukit barisan adalah sumber kehidupan dan penghidupan bagi rakyat Bengkulu.

Teruntuk pemerintah provinsi Bengkulu selaku pihak yang diamanatkan untuk melahirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, hemat saya untuk benar-benar melihat keselamatan Bukit Barisan menjadi dasar mengambil kebijakan. Artinya, pemerintah Provinsi (Gubernur, DLHK, BKSDA) tidak memberikan rekomendasi pinjam pakai kawasan hutan atau bahkan rekomendasi penurunan dan pelepasan kawasan hutan dibebani oleh izin pertambangan. IUP Eksplorasi tidak boleh meningkat menjadi IUP Operasi Produksi, terkhususnya di kawasan hutan Bukit Barisan yang disebutkan diatas. Bagi perusahaan yang beraktivitas dalam kawasan hutan Bukit Barisan yang tidak memiliki izin pinjam pakai harus ditindak dengan tegas, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Berdiri kokoh atau tumbangnya Bengkulu tergantung pada keselamatan tulang punggungnya, yaitu Bukit Barisan.

Oleh: Uli Arta Siagian, Direktur Yayasan Genesis Bengkulu.

Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *