“Berani” Menolak Gerakan Radikalisme di Medsos

Silvia Anggraeni, S.Ag
Pemerhati Masalah Gerakan Radikalisme di Indonesia

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.

Dampak dari media sosial, terdapat dampak positif dan negatif. Dampak positifnya kita bisa bertemu dengan teman lama melalui WA, FB, BB, Twitter dan lainnya, dapat melakukan usaha kegiatan sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Sementara dampak negatif dari medsos yang sangat dikhawatirkan oleh orang tua dan negara adalah media sosial di isi dengan konten radikalisme yang dapat memprovokasi dan menghasut masyarakat khususnya umat Islam agar mereka dapat terlibat dalam kegiatan radikalisme.

Ancaman teror kini makin besar setelah ISIS, atau Islamic State of Iraq and Syria berdiri dan menebar teror yang melibatkan korban warga berbagai negara, termasuk situs peninggalan sejarah Islam. Pola ISIS menggunakan ranah internet dan mengisinya dengan beragam propaganda dengan konten multimedia yang dibuat secara profesional, kian meyakinkan untuk membujuk pengikut baru. Pemerintah juga memiliki kesulitan untuk memonitor, termasuk menutup situs maupun akun media sosial yang menebar paham radikal. Panduan membuat alat ledak dan berjihad berserakan di dunia maya, yang dikhawatirkan akan disalahgunakan oleh masyarakat yang ingin melakukan kegiatan teror.

Sebelum ramainya media sosial di kalangan masyarakat pada era reformasi kita mengenal dengan sarana teknologi informasi yaitu handphone (HP) sebagai media komunikasi. HP dahulu hanya sekedar melakukan komunikasi melalui udara atau percakapan dan tulisan saja, belum seperti sekarang ini yang sudah dilengkapi dengan fasilitas fasilitas canggih untuk memanjakan konsumen. Dari anak kecil sampai dengan usia uzur menggunakannya. Saat terjadi ledakan Bom Bali 2002, kelompok teroris telah menggunakan sarana teknologi informasi HP ini, sebagai media komunikasi. Padahal saat itu publik belum familiar dengan handphone, tetapi mereka jaringan teroris sudah menggunakan itu. Teknologi komunikasi menjadi sarana yang dianggap efektif bagi jaringan teroris untuk menyebarkan paham radikal, berkomunikasi di antara sesamanya, termasuk melakukan rekrutmen anggota.

Zaman dahulu saja, banyak warga negara kita sudah terbaiat dengan jaringan teroris nasional, berafiliasi dengan jaringan teroris internasional yang dikenal dengan jaringan kelompok Osama Bin Laden, saat ini kelompok teror yang paling terkenal adalah kelompok ISIS. Oleh karenanya sekarang ini kita sangat khawatir dengan perkembangan tekonologi khususnya penyalahgunaan media sosial yang dilakukan khususnya oleh remaja kita sebagai generasi penerus bangsa. Apabila mereka menelan mentah mentah berita berita atau konten yang berisi radikalisme karena mereka tidak disiapkan ilmu agama yang benar maka dikawatirkan ikut terlibat dalam kegiatan radikalisme.

Oleh karenanya kita sebagai orang tua harus mewaspadai masuknya paham radikalisme/terorisme, dari tingkat yang paling kecil, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan dilingkungan sekolah/kampus. Kita berharap kepada kepala keluarga, ketua RT, Ketua RW, kepala sekolah, guru saling berkomunikasi agar warganya atau para pelajar mengetahui penggunaan HP/gatget. Kita harus hati-hati jika punya anak yang gemar menutup diri di kamar, atau menyendiri dalam mengakses internet. Kita harus mengetahui kegiatan mereka agar dapat membentengi anak, warga, anak didiknya untuk mencerna apa-apa saja yang masuk ke gatget nya. Semuanya itu bisa ditangkal dengan melakukan atau memberikan pendidikan agama secara benar.

Pemerintah sendiri melalui Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sangat jelas mendukung program pemberantasan radikalisme di media sosial. Menkominfo, Rudiantara mengatakan tidak ada toleransi bagi radikalisme, dari sisi konten bagaimana pemerintah menghadapi media sosial yang kontennya semakin liar, semakin tidak terkontrol dan dimanfaatkan oleh kelompok kelompok teror tersebut. Pemerintah akan mendukung program pemberantasan paham radikal dan tidak akan tebang pilih memberantas radikalisme, termasuk paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Saat ini, kita harus mengedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Kita berharap semakin banyak situs yang menyajikan konten positif tentang pemahaman Islam yang sebenarnya juga dibuat pihak lain dan disebarluaskan oleh media sosial. Penyebaran informasi tandingan mengenai bahaya terorisme serta gerakan radikal yang mengusung agama ini dilakukan untuk menandingi sejumlah situs yang mengkampanyekan berdirinya negara Islam, daulah Islamiyah yang berdasarkan syariah, dan mengajak pendukung untuk mewujudkan hal itu termasuk dengan berjihad dalam bentuk perang.

Adanya sinergi yang baik dari semua elemen sesuai dengan kewenangannya juga sangat diperlukan di dalam meminimalisir ataupun mengeliminir berkembangnya paham paham radikal di medsos, sehingga masyarakat kita khususnya generasi generasi muda yang menjadi sasaran empuk “berani” untuk menolak gerakan radikalisasi sehingga tidak terkontaminasasi pemikirannya. Caranya dengan pembelajaran agama yang benar, pembinaan akhlak dari lingkungan yang terkecil dan sebagai generasi bangsa berpikiran positif untuk membangun negara Indonesia bukan melawan negara untuk membuat negara dalam negara sehingga menganggu Kamtibmas di masyarakat. (***)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *